Cinta Di Mata Risty
Namaku Ryan. Sekarang umurku 22 tahun. Wajahku bulat agak lonjong . Aku punya lesung pipi dan wajah oriental. Rambutku pun lurus. Sekarang akubekerja di sebuah perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia. Ini adalah kisahku. Kisah cinta yang tak tersampai.
Mentari perlahan naik ke singgasananya. Para burung terbangun dan berkicau kesana ke mari. Dalam hati sudah kuteguhkan bahwa hari itu aku akan bertemu dengan pujaan hatiku yakni Laudy. Dia adalah kekasih ku. Aku mengenalnya kira-kira sudah 2 tahun dan sudah sekitar 1 tahun kita merjut hubungan. Hubungan antar 2 insan yang sedang di mabuk asmara. Yahhh cinta antara kita selalu bersemi sepanjang hari. Aku mencintainya tulus dari dalam hati. Sifat nya yg baik yang mungkin tidak aku miliki. Kata orang-orang wajah kita mirip dan aku beruntung memiliki dia. Tapi sesuatu yang mungkin mereka tak tau kecuali aku dan keluarga laudy. Dia terkena penyakit Leukimia stadium akhir. Dan mungkin kata dokter umurnya tak panjang lagi. Tinggal menunggu hari jam dan detik yang terus berputar mengiringi langkah-langkah ku dengan dia.
Hari itu aku berniat membelikan dia sesuatu. Kaki-kaki ini terus melangkah tak mengenal lelah. Aku memasuki sebuah toko berlian. Aku ingin membeliakn dia sebuah cincin pertunangan bermahkotakan berlian. Aku pun melanjutkan perjalanan menuju toko bunga dan gaun. Laudy sangat suka terhadap warna putih aku pun membelikan dia gaun indah dan segrombol mawar putih. Dengan hati penuh ke ikhlasan aku menuju rumah Laudy.
Aku berangkat ke rumah Laudy dengan tujuan membuat sureprice. Kaki kupun melangkah dengan semangatnya. Dan dengan senyum di bibir aku membuka pintu. Dan betapa terkejutnya diriku. Di lorong kamar yang sempit gelap dan biasa di singgahi itu terlihat sesosok gadis tergeletak lemas di pangkuan seorang laki-laki. Yah laki-laki itu adalah Chandra. Adik laki-laki dari laudy. Dan tidak lain dan tidak bukan yang tergeletak adalah laudy. Dengan rambut yang berceceran di lantai dan bibir yang terlihat putih pucat. Kami pun segera membawa laudy ke rumah sakit.setelah sampai di sana aku menunggu sekitar sejam di ruang tunggu yang sepi. Senyap menerpa diri ku. Hujan gerimis membawa lamunanku semakin dalam. Laudy suka dengan grimis begitu pula aku kita berdua memiliki kesamaan tapi mengapa cinta ini terhalang. Ohhh tuhan berikanlah aku waktu agar aku dapat berbicara dengan laudy 30 menit saja tidak lebih.
Air mata ini tak sanggup untuk ku bending setets demi setets berlinang di pipiku. Dokterpun keluar dari ruang iccu. Dengan wajah yang sedih ditekuk. Aku pun berlari kecil menghampiri dokter.
“Saudara Ryan” . Panggil dokter.
“ Iya, dok saya! Ada apa dok?” kataku dengan penuh penasarannya.
“sepertinya nona laudy sedang membutuhkan anda!” jawab dokter.
“iya dok, bolehkan saya masuk”. Kataku
“iya silahkan. Tabahkanlah hatimu sesungguhnya tuhan sedang memberimu cobaan kamu pasti bisa melewati itu semua. Karena tuhan memberikan cobaan untuk umatnya pasti umatnya dapat melewati itu semua.” Jawab dokter.
“iya dok sekali lagi terima kasih”. Kataku dengan sepenuh hati.
Akupun segera masuk dan aku terdiam di samping laudy. Melihat kekasih yang biasanya tersenyum untukku itu tergeletak lemah. Aku pun mencium kening laudy. Dia pun tersadar.
“yayan itu kah kamu?” Tanya nya dengan lemas. Yah yayan begitulah panggilan sayangnya kepadaku.
“iya audy! Aku akan selalu disini disampingmu menjagamu dengan segenap cinta ku kepada mu”.
“sudah lah yan tak ada gunanya kita pacaran lagi”. Jawabnya
“apa maksutmu audy ? mengapa engkau berkata itu kepada ku?.”
“sebaiknya kamu menjauhi ku”. Jawabnya dengan penuh ketegasan dan air mata.
“mengapa aku harus menjauhi kekasihku sendiri?” kataku.
“a aaa aku akan menemui ajal dan aku tak berguna lagi aku tak pantas untukmu dan aku akan membuat hatimu mekin terluka karna kepergianku”. Isak tangis mengiringi dia berbicara kepada ku.
“cukup hentikan sikap bodoh itu! “ kataku sambil memeluk audy.
“kita akan berdua selamanya walau badai menghadang aku kan slalu mencintai dan melindungi mu.” Kataku dengan membisikkan perkataan tadi ketelinga audy.
“dan aku punya sesuatu untukmu”. Jawabku sambil mengambil cincin di saku.
“apa itu?” Tanya audy dengan penuh penasaran.
“aku mencintaimu. Kaulah hidup dan matiku. kau mengukir kata dan syair penuh makna di hati kosong ini. Dan kau mampu mengubah hariku yang kosong tan tak berwarna menjadi lebih indah dan berwarna. Mau kah engkau memakai cincin ini di jari manis mu?”. Kataku
“ aku bersedia karena kaulah yang mengisi hari hari ku dan mengubah hari-hari akhirku menjadi lebih bermakna”. Jawabnya dengan air mata yang menetes di pipi.
Akupun segera memakaikan cincin itu ke jari manis audy. Dan dengan suara yang tersedak- sedak karena menangis kita berdua bersamaan mengucap. I LOVE YOU.
Tiba-tiba mata yang sipit itu hamper menutup perlahan. Dan dengan menguatkannya dia menyuruhku untuk sholat berjamaah dengan nya. Akupun menuntunya untuk memakai mukenah dan bertayamum. Dan saat sholat selesai kulakuan dengannya tiba-tiba mata itu perlahan tertutup dan dengan senyum di bibir manisnya. Aku pun memeluk audy dan berteriak. AUDY aku segera memanggildokter dokter dating dan memeriksa audy dan dengan wajah kekecewa an dokter bilang kepada ku.
“maaf tuan kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga tepi tuhan berkehendak lain”. Kata dokter.
Aku pun segera lari dan memeluk audy. Dan membisikkan ketelinga audy aku sungguh cinta padamu kau adalah belahan jiwaku. Dan aku pun segera menghubungi semua keluarga audy. Dan pemakaman pun berlangsung semua orang berpakain seba hitam . aku tak dapat menahan air mata ini terus mengalir di mata ini.gerimis ikut mengiringi kepergian audy. Pemakaman telah usai. Semua orang pergi kecuali aku dan keluarga audy. Papa dan mama audy menghapiriku.
“ryan!” panggil om sembari menghampiriku.
“iya om ada apa?”
“kami menemukan ini di meja laudy. Mungkin ini untukmu”.
“oh iya om makasih”.
“yang kuat ryan”. Setiap keluarga laudy berkata seperti itu kepada ku dan meninggalkan aku sendiri.
Pemakaman terlihat sepi tak seorang pun aku pun pergi dari sana.di rumah aku membaca surat dari audy.
To: Ryan
Ryan mungkin ini di luar pengetahuan kamu. Karena aku mendonorkan mata ini kepada seorang gadis. Di surat ini aku menempelkan nama alamatnya. Mungkin jika kamu kangen dengan ku kamu bisa melihat mata gadis itu. Makasih kamu udah merubah hari-hariku menjadi lebih berwarna dan bermakna. Aku juga minta maaf atas segala kesalahan ku dan maaf karena aku tidak bisa menemani dan mengisi hari harimu . maaf karena mungkin aku pergi dengan tiba-tiba. Dan meninggal kanmu untuk selamanya.kamu masih punya masa depan carilah wanita yang lebih baik dan layak dari ku.
LOVE RYAN FOREVER.
Hari demi hari yang kosong kujalani aku hamper melupakan sesuatu yakni nama gadis yang disumbangi mata oleh laudy. Aku pun membuka surat dari laudy dan menemukan nama lamat dan nomor telephone gadis tersebut. Aku pun bertemu dengan nya dan mengenalnya cukup lama matanya jika aku melihat mata itu aku teringan dengan kekasihku laudy. Dan tingkah laku serta sikapnya sangat mirip dengan laudy. Sudah lama pula aku berpacaran dan bertunangan dengannya . dan hari ini adalah hari pengikatan janji suci ku. Yakni pernikahan suatu upacara sacral tergelar. Dan saat pengucaapan janji setia aku melihat sosok bayangan. Bayangan yang sepertinya aku kenal. Yah itu adalah laudy. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Nama istriku risty mungkin dia memang dikirim oleh tuhan untuk ku. Aku pun bersyukur mendapat gadis sebaik dia. Aku pun berjanji untuk menjaga dan melindunginya seperti aku melindungi laudy. Kami pun hidup bahagia sampai sekarang.
-END-
By: Arra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar